Tanggal 22 Juli 2011 kemarin (maaf update-nya telat) saya ditugaskan dari kantor untuk mengikuti Workshop Training of Trainers Pemanfaatan Sistem Operasi dan Aplikasi Perangkat Lunak Open Source di Aula Gedung A Pemkot Cimahi. Akhirnya saya berangkat (meskipun terlambat). Setelah saya mengikuti dengan seksama, ternyata ini adalah sosialisasi mengenai ChiOS. Apalagi ini?
Jadi dalam rangka untuk memerangi pembajakan (penggunaan sistem operasi ilegal), Pemerintah Kota Cimahi (dalam hal ini KAPPDE) memperkenalkan sistem operasi berbasis Linux dengan nama ChiOS (Cimahi Operating System atau bisa juga Cimahi Open Source). ChiOS merupakan hasil remastering dari Ubuntu.
Memang saat ini masih banyak penggunaan sistem operasi Windows yang belum legal (kalau tidak mau disebut bajakan). Jadi Pemkot Cimahi yang mengukuhkan diri sebagai Cyber City, berinisiatif untuk membuat suatu open source yang diberi nama ChiOS ini. Diharapkan seluruh SOPD di Kota Cimahi dapat menggunakan sistem operasi ChiOS tersebut.
Kesan yang saya dapat memang penggunaan ChiOS ini gampang-gampang susah. Tapi itu biasa, seperti mengendarai motor dari motor kopling ke motor matic. Seperti itu kira-kira. Menurut peribahasa, ala bisa karena biasa. Memang dari hasil diskusi, masih terdapat beberapa kendala seperti deteksi hardware yang mungkin belum mendukung. Namun hal ini bersifat teknis semata. Dan saya yakin para ahli (pengembang ChiOS) terus mengupayakan perbaikan-perbaikan.
Apapun itu, usaha Pemkot Cimahi patut dipuji dan diacungi jempol. Untuk lebih jelas mengenai ChiOS ini, silakan mampir di:
1. KLuC (Komunitas Linux urang Cimahi)
2. http://synclicious.blogspot.com/2011/06/chios-cimahi-operating-system.html
Salut untuk kalian!
Jumat, 29 Juli 2011
Kamis, 30 Juni 2011
Hari Keluarga Nasional
Hari ini tanggal 30 Juni 2011 adalah puncak dari peringatan Hari Keluarga Nasional 2011, bertempat di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Kebetulan istri saya termasuk ke dalam 5.000 kader KB yang diundang untuk menghadiri (menjadi tim paduan suara?) acara tersebut. Sebenarnya Hari Keluarga Nasional sendiri jatuh dan diperingati setiap tanggal 29 Juni.
Membicarakan Peringatan Harganas tak lepas dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Sejarah Harganas memang tak lepas dari program Keluarga Berencana. Ketika peringatan Gerakan Terpadu Pertanian Koperasi dan Keluarga Berencana (Gerdu Pertasi Kencana) di Lampung, pada 1993, Presiden Soeharto mencanangkan Hari Keluarga Nasional (Harganas). Presiden Soeharto menetapkan tahun 1994 sebagai peringatan Harganas I yang diselenggarakan di Sidoarjo, Jawa Timur.
Ketua Yayasan Damandiri Prof. Dr. Haryono Suyono, berharap peringatan Harganas menjadi momentum bagi keluarga Indonesia untuk melaksanakan delapan fungsi keluarga. Haryono menjelaskan keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, sebagai tempat pertama dan utama di dalam membentuk nilai-nilai kepribadian masyarakat, sehingga peran keluarga sangat strategis dalam ketahanan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Keluarga mempunyai delapan fungsi, yakni fungsi keagamaan, cinta kasih, pendidikan, sosial-budaya, ekonomi, reproduksi, lingkungan, dan perlindungan. (http://infosocieta.depsos.go.id/index.php/laporan-utama/112-keluarga-membangun-bangsa.html)
Hari Keluarga Nasional sejak tahun 2011 ini diubah menjadi Hari Keluarga. Namun tetap tidak merubah esensi dan makna dari Hari Keluarga itu bagi seluruh keluarga Indonesia. Bahwa pembentukan kepribadian dan karakter anak-anak negeri terbangun dari pola keluarga sebagai peletakkan pendidikan pertama yang memberikan nilai-nilai kepribadian seperti kedisiplinan, kerja sama, kebaikan, kejujuran, solidaritas, berempati dan karakter positif lainnya. Untuk itu komunikasi yang terjalin baik dalam sebuah keluarga sangat mendukung terbentuknya sikap positif dari anak-anak.
Semoga peringatan Hari Keluarga yang dilaksanakan setiap tahun tidak hanya merupakan acara seremonial semata. Semoga gaungnya juga sampai ke lapisan masyarakat yang paling bawah. Sehingga dapat lebih meningkatkan makna dan kualitas sesungguhnya dari sebuah keluarga demi terciptanya tunas-tunas bangsa yang mampu berbuat yang terbaik bagi keluarganya, agama dan juga bangsanya.
Membicarakan Peringatan Harganas tak lepas dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Sejarah Harganas memang tak lepas dari program Keluarga Berencana. Ketika peringatan Gerakan Terpadu Pertanian Koperasi dan Keluarga Berencana (Gerdu Pertasi Kencana) di Lampung, pada 1993, Presiden Soeharto mencanangkan Hari Keluarga Nasional (Harganas). Presiden Soeharto menetapkan tahun 1994 sebagai peringatan Harganas I yang diselenggarakan di Sidoarjo, Jawa Timur.
Ketua Yayasan Damandiri Prof. Dr. Haryono Suyono, berharap peringatan Harganas menjadi momentum bagi keluarga Indonesia untuk melaksanakan delapan fungsi keluarga. Haryono menjelaskan keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, sebagai tempat pertama dan utama di dalam membentuk nilai-nilai kepribadian masyarakat, sehingga peran keluarga sangat strategis dalam ketahanan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Keluarga mempunyai delapan fungsi, yakni fungsi keagamaan, cinta kasih, pendidikan, sosial-budaya, ekonomi, reproduksi, lingkungan, dan perlindungan. (http://infosocieta.depsos.go.id/index.php/laporan-utama/112-keluarga-membangun-bangsa.html)
Hari Keluarga Nasional sejak tahun 2011 ini diubah menjadi Hari Keluarga. Namun tetap tidak merubah esensi dan makna dari Hari Keluarga itu bagi seluruh keluarga Indonesia. Bahwa pembentukan kepribadian dan karakter anak-anak negeri terbangun dari pola keluarga sebagai peletakkan pendidikan pertama yang memberikan nilai-nilai kepribadian seperti kedisiplinan, kerja sama, kebaikan, kejujuran, solidaritas, berempati dan karakter positif lainnya. Untuk itu komunikasi yang terjalin baik dalam sebuah keluarga sangat mendukung terbentuknya sikap positif dari anak-anak.
Semoga peringatan Hari Keluarga yang dilaksanakan setiap tahun tidak hanya merupakan acara seremonial semata. Semoga gaungnya juga sampai ke lapisan masyarakat yang paling bawah. Sehingga dapat lebih meningkatkan makna dan kualitas sesungguhnya dari sebuah keluarga demi terciptanya tunas-tunas bangsa yang mampu berbuat yang terbaik bagi keluarganya, agama dan juga bangsanya.
Langganan:
Postingan (Atom)